Program PMT untuk Anak Gizi Kurang di Indonesia

Oleh Soraya Nabila Arifa

Seperti yang kita ketahui bahwa anak dengan gizi kurang memiliki prevalensi yang cukup tinggi dalam masyarakat, terutama pada menengah kebawah. Telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam hal gizi anak, mulai dari pemantauan dan penimbangan balita di posyandu, penyuluhan, konseling makanan dan ASI. Semua ditujukan agar generasi yang selanjutnya dapat menjadi manusia yang sehat dan produktif. Namun berbagai kendala seperti masalah biaya tidak dapat dipungkiri memang menghambat, tidak terkecuali masalah gizi.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah suatu program yang dibuat sejak tahun 2011, penuh dibiayai oleh Kemenkes, ditujukan pada anak usia 6-59 bulan. Dengan kriteria (semua berdasar Z score WHO):

  1. Pasca menjalani perawatan gizi buruk
  2. Balita kurus dengan BB yang tidak naik 2 bulan berturut-turut
  3. Balita kurus
  4. Balita bawah garis merah

Adapun makanan yang diberikan fleksibel, disesuaikan dengan makanan lokal dan ketersediaan bahan. Makanan yang diberikan TIDAK mengganti makanan sehari-hari dirumah, dan bertujuan sebagai makanan tambahan. Dengan lama pemberian 90 hari per anak.

Program ini adalah tingkat posyandu, caranya adalah ditentukan tempat memasak (misal salah satu rumah warga, atau bergantian) kemudian memasak setiap hari 1x (makanan lauk atau makanan selingan ditambah buah) dengan bahan diutamakan protein nabati dan hewani, bentuk disesuaikan dengan usia peserta. Makanan diberikan antara sarapan dan makan siang (+- jam 10.00) atau antara makan siang dan malam (+- 16.00), contoh bubur kacang hijau, bubur ketan, nasi tim, dll. Kemudian orangtua peserta mengambil / didistribusikan ke rumah.

Yang menurut saya baik dari program ini adalah meningkatkan kepedulian orangtua terhadap anak, sesama warga, dan orangtua juga belajar dari kegiatan serupa belajar memberi makanan tambahan dirumah apabila sudah lepas program PMT, pemberiannya jg langsung dalam bentuk makanan sehingga pasti dikonsumsi.

Namun kegiatan ini bisa saja tidak efektif karena orangtua dapat menganggap bisa melakukan sendiri dirumah, atau malas untuk mengambil ke tempat. Kegiatan yang dilakukan selama 90 hari juga dapat membuat jenuh warga yang terlibat dalam pembuatan makanan.

Referensi : http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/11/Panduan-PMT-BOK.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s