Program Peer Educator untuk Mencegah Malnutrisi Anak di Filipina

Oleh Soraya Nabila Arifa

 “I never understood malnutrition. After Talha was born, we mix-fed him with infant formula milk,” -Al-Rahman ‘Ping’ Sarapuddin, father of three boys, had a similar close call. His second son, Abu-Talha, is currently categorised as MAM; but was previously SAM.
*MAM; Moderate Acute Malnutrition. SAM; Severe Acute Malnutrition

Akar dari masalah di Filipina adalah tingginya angka kelahiran dan rendahnya status ekonomi keluarga, sehingga seorang Ibu merasa wajib untuk bekerja walaupun sambil mengasuh anak. Hal ini membuat banyak balita tidak mendapatkan nutrisi yang cukup terutama dari ASI selama 2 tahun pertama. Orangtua tidak paham apa pentingnya makanan untuk anak.

“If they feel overloaded with too many instructions, they shy away from prescribed methods of feeding their children, especially on complementary feeding. Providing their children proper nutrition is also closely linked to their financial burdens. Instead of breastfeeding, young mothers often end up having to take on jobs to sustain the needs of their children and families,” -Dr. Sharifa Aini Hashim, UNICEF’s attending paediatrician at Masepla

terdapat 3 program yang dijalankan di Filipina:

  1. Peer Counseling : Terdapat 1 atau lebih Ibu yang berperan sebagai pemberi edukasi terhadap ibu menyusui yang ada di daerah tersebut, materi yang diberikan tentang pentingnya ASI bagi anak, dan cara menyusui yang benar.
  2. Peer Support Group : Selompok ibu yang saling berbagi dan edukasi tentang cara membagi waktu antara bekerja sambil mengasuh anak, dan pentingnya nutrisi. Bagi Ibu yang sudah tidak bisa menyusui, akan dibantu oleh ibu donor ASI
  3. Human Milk Bank

Menurut saya hal ini sangat cocok dilakukan di Indonesia terutama di masyarakat menengah kebawah dengan tingkat edukasi yang rendah, karena masalah utamanya adalah ketidaktahuan akan pentingnya nutrisi pada anak. Walaupun hal ini telah dilakukan di tingkat Posyandu, namun sepertinya belum efektif, mungkin karena tidak diedukasi secara personal. Dilihat dari masih tingginya jumlah anak dengan malnutrisi.

Referensi :

https://www.unicef.org/philippines/reallives_25261.html#.WG2_8TVKW9Y

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s