U-Report Indonesia : Gunakan Suaramu, Angkat Suara Mereka

Oleh Soraya Nabila Arifaureport1.jpg

“U-Report Indonesia adalah sistem jajak pendapat yang menggunakan media sosial, Twitter @UReport_id sebagai platform agar pemuda Indonesia dapat menyuarakan aspirasi, opini, dan idenya dalam isu-isu yang mempengaruhi pemuda dan remaja di Indonesia. Jajak pendapat ini melibatkan peran serta pemuda dan remaja melalui pertanyaan-pertanyaan yang akan dianalisis untuk dibagikan kepada mitra pemerintah dalam membuat perubahan positif.”

Caranya sangat mudah, hanya dengan ‘Follow’ @UReport_id (https://twitter.com/ureport_id?lang=en) , Kirim Direct Message berisi “GABUNG”, dan mereka akan memberi 3 pertanyaan polling terkini. Hasilnya akan diolah menjadi sebuah grafik. Kita juga dapat melaporkan hal-hal yang tidak sesuai mengenai hak anak dan perempuan di sekitar kita. Melalui program ini, UNICEF Indonesia berusaha agar suara pemuda Indonesia lebih didengar oleh pemerintah. Platform ini tak hanya digunakan di Indonesia, namun juga Uganda, Burundi, Pakistan, dll.

Tertarik menjadi bagian dari U-Report UNICEF? Selamat mencoba 🙂

C0-1MhqVQAAe-TD.jpg

Referensi :

https://indonesia.ureport.in/about/

http://unicefstories.org/2015/12/16/u-report-indonesia-officially-launched/

http://www.ureport.in/

Advertisements

Ready to Use Therapeutic Food (2)

Oleh Soraya Nabila Arifa

Berikut adalah video penjelasan singkat mengenai Ready to Use Therapeutic Food, sebuah solusi untuk anak dengan malnutrisi akut di berbagai negara, seperti Ethiopia, Kenya, Haiti, Sudan, India, dan banyak negara lainnya.

Terbuat dari bahan dasar kacang tanah, biji-bijian, gula, skimmed milk, minyak, mineral yang dicampur dan dikemas dalam bentuk selai. Pasta ini berisi kalori 520-550kkal/100 gram, setara dengan susu Formula-100 WHO. Rasa yang menarik membuat RUTF lebih diterima oleh anak daripada F100, dan lebih cepat memperbaiki gizi anak.

Namun sayang, RUTF belum menjadi program pemerintah Indonesia sehingga sulit diakses, hingga saat ini masih merupakan bentuk bantuan dari UNICEF.

Referensi :

http://motherchildnutrition.org/malnutrition-management/info/rutf-plumpy-nut.html

https://www.foodforfamine.org/who-we-are/how-rutf-works/

https://www.usaid.gov/what-we-do/agriculture-and-food-security/food-assistance/resources/ready-use-therapeutic-food

Ready to Use Therapeutic Food (RUTF)

Oleh Soraya Nabila Arifa

bannerAd4.jpg

RUTF, Makanan dalam bentuk pasta, padat gizi, atasi malnutrisi. (Credits to foodforfamine.org)

Sebuah kisah dari UNICEF Indonesia tentang dua anak kembar di Nusa Tenggara Timur yang menderita Severe Acute Malnutrition (SAM) bernama Randy dan Rendy yang berusia 2 tahun. Hingga usianya mereka belum bisa berdiri atau berjalan, masih saja digendong oleh Ibunya, tampak sangat kurus, lemah dan tidak berdaya. Bidan setempat menyadari dan mendaftarkan mereka pada program UNICEF. Program ini menggunakan “Ready to Use Therapeutic Food (RUTF)” sebagai makanan tambahan, untuk anak dengan Malnutrisi Akut

Setelah penggunaan makanan ini selama satu bulan lebih, perubahan yang signifikan terlihat pada Randy dan Rendy, lebih berenergi, terlihat sehat dan mulai belajar berjalan. RUTF memberikan dampak yang sangat baik dan menjadi solusi pada anak dengan malnutrisi. Namun sayang penggunaannya di Indonesia masih sangat terbatas, mungkin karena ini masih dalam bentuk bantuan dari UNICEF, belum menjadi program pemerintah Indonesia.

FFF-food-infographic-2014_72_dpi.jpg

Ilustrasi kandungan gizi dalam 1 paket RUTF. (Credits to foodforfamine.org)

Sedikit penjelasan tentang RUTF :

“Ready-to-use therapeutic food (RUTF) are energydense, micronutrient enhanced pastes used in therapeutic feeding. These soft foods are a homogenous mix of lipid rich foods, with a nutritional profile similar to the World Health Organization-recommended therapeutic milk formula used for inpatient therapeutic feeding programmes. Typical primary ingredients for RUTF include peanuts, oil, sugar, milk powder and vitamin and mineral supplements.

Beberapa keunggulan RUTF

  1. Memiliki semua nutrisi yang dibutuhkan saat pemulihan anak
  2. Tahan lama, dapat disimpan diluar kulkas, berbentuk pasta tidak mudah tumpah
  3. Tidak berbahan dasar air, tidak mudah ditumbuhi bakteri
  4. Rasanya mudah disukai oleh anak dan dapat digunakan sehari hari tanpa pengawasan dokter

Referensi

http://unicefindonesia.blogspot.co.id/2016/04/fighting-malnutrition-in-indonesia-my.html

https://www.unicef.org/media/files/Position_Paper_Ready-to-use_therapeutic_food_for_children_with_severe_acute_malnutrition__June_2013.pdf

Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Oleh Soraya Nabila Arifa

Pramuka2.png

Rekan dari divisi nutrition melakukan diskusi dengan kakak-kakak pramuka. (Credit to UNICEF Indonesia)

Sebuah kisah yang saya baca dalam blog Kisah Nyata oleh UNICEF Indonesia,

“Pertemuan lima tahunan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang aktif di satuan Karya Pramuka Bakti Husada (Saka Bakti Husada) tingkat nasional akan digelar pada 17-23 Oktober 2016 bertempat di Bumi Perkemahan Serut, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan dalam bentuk perkemahan bakti ini  disebut Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka Bakti Husada Tingkat Nasional ke V (PERTINAS SBH 2016)

Pada kegiatan perkemahan ini UNICEF ikut andil dalam mendukung pelaksanaan kegiatan dalam beberapa segmen: pendirian booth informasi kerjasama, dukungan material peraga untuk pendalaman krida Bina Lingkungan Sehat dalam platform WASH dan pendalaman krida Bina Gizi Sehat dalam platform Adolescent Nutrition.

“Pada hari pertama pelaksanaan PERTINAS SBH 2016, sejak pagi hari sudah terlihat aktivitas pada booth UNICEF, dari divisi Nutrition UNICEF melakukan kegiatan pre-test material dari modul nutrition dengan mengundang kakak-kakak Pramuka untuk berdiskusi mengenai materi yang terkandung dalam modul pelatihan gizi untuk pramuka yang direncanakan akan digunakan pada aktivitas follow up pasca Pertinas SBH 2016. Diskusi tersebut dilakukan dengan proses reading materi oleh Pramuka, lalu dari pihak Pramuka akan memberikan opini dari sudut pandang mereka masing masing. Dari diskusi tersebut didapatkan beberapa point yang bisa digunakan sebagai bahan improvement untuk materi Nutrition kedepannya.”

Menurut saya dalam hal ini UNICEF melakukan hal yang tepat dengan mengajak pramuka seluruh Indonesia berpartisipasi dalam programnya, terutama tentang nutrisi, sekaligus membuat agen perubahan di daerah masing masing setelah selesai dari acara PERTINAS SBH 2016. Sebagai dokter kedepannya, hal seperti ini dapat dicontoh, bisa bekerja sama dengan sekolah atau organisasi seperti UNICEF.

http://indonesiaunicef.blogspot.co.id/2016/10/pramuka-sebagai-agen-perubahan.html

Hasil Survey Kelas Nutrisi untuk Sekolah Dasar di Amerika Serikat

Oleh Soraya Nabila Arifa

Berdasarkan hasil studi, sudah jelas efek dari diet pada kesehatan anak, kebiasaan makan tidak sehat pada anak di Amerika Serikat cukup mengkhawatirkan karena sebagian tidak bergizi, kurang konsumsi gandum, buah-buahan dan sayur-sayuran.  Kebiasaan makan anak yang bertumbuh akan berpengaruh pada masa depannya, itulah pentingya mereka belajar nutrisi sejak dini. Di Amerika Serikat, negara yang tergolong maju, 75 persen dari taman kanak hingga setara kelas 12 telah menerapkan wajib edukasi nutrisi sejak tahun 2000.

Berbagai strategi dilakukan, diantaranya :

  1. Makanan telah disediakan oleh sekolah sesuai dengan dietary guideline, hal ini sudah diinisiasi AS sejak tahun 1995. Hingga beberapa sekolah memiliki “Tim Nutrisi” khusus untuk penyediaan makanan.
  2. 63% modul nutrisi disisipkan dalam subjek pelajaran lain seperti pendidikan jasmani, ilmu pengetahuan alam. 33% dalam modul yang khusus namun di pelajaran lain juga tetap disisipkan. 4% diberikan dalam modul sendiri. Untitled2.png
  3. Strategi mengajar yang menarik : “Instruction with a behavioral focus, or a focus on changing specific behaviors rather than on learning general facts about nutrition” . Sehingga yang diajarkan lebih kepada merubah kebiasaan daripada hanya sekedar ‘fakta’ atau ‘teori’. Berikut adalah cara pemberian materi yang sering digunakan, disesuaikan dengan usia sekolah :Untitled3.png
  4. Orangtua diharapkan terlibat dalam edukasi, dengan beberapa cara yaitu : Mengirimkan materi ke rumah, mengundang orang tua untuk menghadiri kelas nutrisi atau memberikan modul untuk yang berprofesi sebagai nutritionist, memberi pekerjaan rumah anak yang perlu bantuan orangtua, mengundang dalam event sekolah seperti ‘School Lunch Weeks’
  5. Pembuatan modul

Menurut saya sisipan modul nutrisi seperti ini seharusnya bisa dicontoh di sekolah terutama sekolah dasar. Namun yang paling menarik adalah adanya kantin untuk makan siang yang sudah termasuk dalam biaya sekolah, dibandingkan dengan anak-anak Indonesia sangat tinggi konsumsi jajanan tidak sehat, dan masih sangat jarang menyediakan kantin yang berisi makanan sehat dan bersih. Cara sekolah di Amerika Serikat dalam melibatkan orangtua juga sangat menarik seperti mengirimkan materi ke rumah, dengan harapan dirumah mereka tetap terpenuhi gizinya dengan makanan yang sehat.

Referensi :

https://nces.ed.gov/pubs2000/2000040.pdf

Save

Memasak Bersama Melawan Malnutrisi di Pedalaman Ethiopia

Oleh Soraya Nabila Arifa

Video di atas menunjukkan bahwa sebenarnya banyak cara untuk mengatasi malnutrisi, salah satunya dengan kegiatan masak bersama. Dalam kegiatan ini, masyarakat pedalaman Ethiopia diedukasi cara membuat makanan bergizi dengan bahan-bahan yang ada.

Semudah menambahkan telur, susu dan sayuran dalam bubur.

Dari hanya memberi karbohidrat, kini mereka memberi protein dan serat dalam makanan anak-anak Ethiopia.

Program Peer Educator untuk Mencegah Malnutrisi Anak di Filipina

Oleh Soraya Nabila Arifa

 “I never understood malnutrition. After Talha was born, we mix-fed him with infant formula milk,” -Al-Rahman ‘Ping’ Sarapuddin, father of three boys, had a similar close call. His second son, Abu-Talha, is currently categorised as MAM; but was previously SAM.
*MAM; Moderate Acute Malnutrition. SAM; Severe Acute Malnutrition

Akar dari masalah di Filipina adalah tingginya angka kelahiran dan rendahnya status ekonomi keluarga, sehingga seorang Ibu merasa wajib untuk bekerja walaupun sambil mengasuh anak. Hal ini membuat banyak balita tidak mendapatkan nutrisi yang cukup terutama dari ASI selama 2 tahun pertama. Orangtua tidak paham apa pentingnya makanan untuk anak.

“If they feel overloaded with too many instructions, they shy away from prescribed methods of feeding their children, especially on complementary feeding. Providing their children proper nutrition is also closely linked to their financial burdens. Instead of breastfeeding, young mothers often end up having to take on jobs to sustain the needs of their children and families,” -Dr. Sharifa Aini Hashim, UNICEF’s attending paediatrician at Masepla

terdapat 3 program yang dijalankan di Filipina:

  1. Peer Counseling : Terdapat 1 atau lebih Ibu yang berperan sebagai pemberi edukasi terhadap ibu menyusui yang ada di daerah tersebut, materi yang diberikan tentang pentingnya ASI bagi anak, dan cara menyusui yang benar.
  2. Peer Support Group : Selompok ibu yang saling berbagi dan edukasi tentang cara membagi waktu antara bekerja sambil mengasuh anak, dan pentingnya nutrisi. Bagi Ibu yang sudah tidak bisa menyusui, akan dibantu oleh ibu donor ASI
  3. Human Milk Bank

Menurut saya hal ini sangat cocok dilakukan di Indonesia terutama di masyarakat menengah kebawah dengan tingkat edukasi yang rendah, karena masalah utamanya adalah ketidaktahuan akan pentingnya nutrisi pada anak. Walaupun hal ini telah dilakukan di tingkat Posyandu, namun sepertinya belum efektif, mungkin karena tidak diedukasi secara personal. Dilihat dari masih tingginya jumlah anak dengan malnutrisi.

Referensi :

https://www.unicef.org/philippines/reallives_25261.html#.WG2_8TVKW9Y

 

Multiple Micronutrient Powder untuk Anak Usia 6-24 Bulan di Filipina

Multiple-Micro-nutrient-powder.jpg

Oleh Soraya Nabila Arifa

Diperkirakan 190 juta balita dan anak menderita defisiensi Vit A dan 293 juta anak menderita anemia. Multiple micronutrient powders (MMP) ini menjadi salah satu solusi dari permasalahan tersebut, karena dapat dicampurkan dalam makanan untuk anak usia 6-23 bulan. Terbukti berdasarkan penelitian  bahwa penggunaan MMP ini dapat mengurangi anemia sebanyak 31% dan dan defisiensi besi sebesar 51% dibandingkan dengan placebo atau tanpa terapi apapun. Walaupun tidak memiliki efek peningkatan terhadap Z score Weight for Height, Weight for Age dan Height for Age.

Untitled.png

Program ini sebenarnya telah ada sejak 2011 dari WHO, namun filipina baru menjalankannya pada akhir 2016 lalu, MMP dalam bentuk bubuk yang ditaburkan pada makanan. Sedangkan di Indonesia sendiri, Mineral dan vitamin dalam bentuk sacchet mungkin tidak digunakan di puskesmas maupun rumah sakit Indonesia, namun tidak asing kita dengar “Makanan terfortifikasi”, yang artinya makanan tersebut telah ditambahkan dengan zat besi, zinc, vitamin (biasanya B1, B2, dll).

Makanan pokok seperti tepung terigu, telah diatur berdasarkan SK Mentri Perindustrian & Perdagangan menetapkan SNI (Standard Nasional Industri) pada tahun 2001, diwajibkan untuk difortifikasi karena besarnya penggunaan tepung terigu dalam mi, roti, dan bahan olahan lain. Hal ini dimaksudkan Negara untuk mencegah anemia dan kekurangan vitamin mineral dalam skala besar. Tak hanya Indonesia, 52 Negara di dunia juga telah mewajibkan tepung terigu difortifikasi

Referensi :

http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44651/1/9789241502047_eng.pdf?ua=1&ua=1

https://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_12588.html

Save

Program PMT untuk Anak Gizi Kurang di Indonesia

Oleh Soraya Nabila Arifa

Seperti yang kita ketahui bahwa anak dengan gizi kurang memiliki prevalensi yang cukup tinggi dalam masyarakat, terutama pada menengah kebawah. Telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam hal gizi anak, mulai dari pemantauan dan penimbangan balita di posyandu, penyuluhan, konseling makanan dan ASI. Semua ditujukan agar generasi yang selanjutnya dapat menjadi manusia yang sehat dan produktif. Namun berbagai kendala seperti masalah biaya tidak dapat dipungkiri memang menghambat, tidak terkecuali masalah gizi.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah suatu program yang dibuat sejak tahun 2011, penuh dibiayai oleh Kemenkes, ditujukan pada anak usia 6-59 bulan. Dengan kriteria (semua berdasar Z score WHO):

  1. Pasca menjalani perawatan gizi buruk
  2. Balita kurus dengan BB yang tidak naik 2 bulan berturut-turut
  3. Balita kurus
  4. Balita bawah garis merah

Adapun makanan yang diberikan fleksibel, disesuaikan dengan makanan lokal dan ketersediaan bahan. Makanan yang diberikan TIDAK mengganti makanan sehari-hari dirumah, dan bertujuan sebagai makanan tambahan. Dengan lama pemberian 90 hari per anak.

Program ini adalah tingkat posyandu, caranya adalah ditentukan tempat memasak (misal salah satu rumah warga, atau bergantian) kemudian memasak setiap hari 1x (makanan lauk atau makanan selingan ditambah buah) dengan bahan diutamakan protein nabati dan hewani, bentuk disesuaikan dengan usia peserta. Makanan diberikan antara sarapan dan makan siang (+- jam 10.00) atau antara makan siang dan malam (+- 16.00), contoh bubur kacang hijau, bubur ketan, nasi tim, dll. Kemudian orangtua peserta mengambil / didistribusikan ke rumah.

Yang menurut saya baik dari program ini adalah meningkatkan kepedulian orangtua terhadap anak, sesama warga, dan orangtua juga belajar dari kegiatan serupa belajar memberi makanan tambahan dirumah apabila sudah lepas program PMT, pemberiannya jg langsung dalam bentuk makanan sehingga pasti dikonsumsi.

Namun kegiatan ini bisa saja tidak efektif karena orangtua dapat menganggap bisa melakukan sendiri dirumah, atau malas untuk mengambil ke tempat. Kegiatan yang dilakukan selama 90 hari juga dapat membuat jenuh warga yang terlibat dalam pembuatan makanan.

Referensi : http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/11/Panduan-PMT-BOK.pdf