U-Report Indonesia : Gunakan Suaramu, Angkat Suara Mereka

Oleh Soraya Nabila Arifaureport1.jpg

“U-Report Indonesia adalah sistem jajak pendapat yang menggunakan media sosial, Twitter @UReport_id sebagai platform agar pemuda Indonesia dapat menyuarakan aspirasi, opini, dan idenya dalam isu-isu yang mempengaruhi pemuda dan remaja di Indonesia. Jajak pendapat ini melibatkan peran serta pemuda dan remaja melalui pertanyaan-pertanyaan yang akan dianalisis untuk dibagikan kepada mitra pemerintah dalam membuat perubahan positif.”

Caranya sangat mudah, hanya dengan ‘Follow’ @UReport_id (https://twitter.com/ureport_id?lang=en) , Kirim Direct Message berisi “GABUNG”, dan mereka akan memberi 3 pertanyaan polling terkini. Hasilnya akan diolah menjadi sebuah grafik. Kita juga dapat melaporkan hal-hal yang tidak sesuai mengenai hak anak dan perempuan di sekitar kita. Melalui program ini, UNICEF Indonesia berusaha agar suara pemuda Indonesia lebih didengar oleh pemerintah. Platform ini tak hanya digunakan di Indonesia, namun juga Uganda, Burundi, Pakistan, dll.

Tertarik menjadi bagian dari U-Report UNICEF? Selamat mencoba ūüôā

C0-1MhqVQAAe-TD.jpg

Referensi :

https://indonesia.ureport.in/about/

http://unicefstories.org/2015/12/16/u-report-indonesia-officially-launched/

http://www.ureport.in/

Advertisements

Menolak tekanan untuk mulai merokok : Proyek Youth Karelia Utara.

  • Lima sampai 10 sesi kelas selama dua tahun mengajarkan keterampilan untuk menolak tekanan untuk mulai merokok untuk siswa berusia 13 sampai 15 tahun.
  • Dibandingkan dengan siswa dari sekolah perbandingan, kelompok perlakuan dilaporkan berkurang angka merokok segera setelah intervensi dan hingga tindak lanjut survei empat tahun.

 

Referensi : Vartiainen, E., Fallonen, U., McAlister, A. L., & Puska, P. (1990). Eight-year follow-up results of an adolescent smoking prevention program: the North Karelia Youth Project. American Journal of Public Health, 80(1), 78-79.

http://ajph.aphapublications.org/doi/abs/10.2105/AJPH.80.1.78

Pengurangan Kadar Lemak Dan Garam Pada Program Makan Siang Sekolah di Minnesota

  • Program ini dilaksanakan di 34 sekolah dasar di empat kabupaten sekolah yang mewakili wilayah geografis yang beragam dari Minnesota.
  • Sebuah tim ahli diet terdaftar, direktur jasa makanan, dan memasak manajer mengurangi lemak dan natrium kadar sekolah makan siang dengan memodifikasi resep dan metode persiapan makanan dan dengan mengidentifikasi dan memilih produk vendor (produk makanan siap) yang rendah lemak dan natrium.
  • Pendidikan gizi bagi siswa dan orang tua dilaksanakan untuk intervensi dalam 5 bulan. menu bulanan dianalisis kadar lemak, sodium, dan kandungan energi sebelum dan sesudah intervensi

Referensi : Snyder, M. P., Story, M., & Trenkner, L. L. (1992). Reducing fat and sodium in school lunch programs: the LUNCHPOWER! Intervention Study. Journal of the American Dietetic Association, 92(9), 1087-1091.

http://europepmc.org/abstract/med/1512366

Menurunkan risiko kejadian kardiovaskular dengan program Heart Smart makan siang sekolah

  • Menggunakan model kelas untuk mentransfer ilmu dan program makan siang sekolah untuk memfasilitasi perilaku makan sehat kardiovaskuler
  • Perubahan diet terfokus pada reduksi natrium, lemak (terutama lemak jenuh), dan gula pada makan siang sekolah.
  • Strategi untuk perubahan diet terdiri dari lima bidang utama dalam kuantitas produksi pangan: perencanaan menu, pembelanjaan makanan, modifikasi resep, persiapan makanan, dan teknik produksi pangan.
  • Rekomendasi ini dapat diterapkan untuk digunakan dalam program promosi kesehatan sekolah di seluruh bangsa.

 

Referensi : Nicklas, T. A., Forcier, J. E., Farris, R. P., Hunter, S. M., Webber, L. S., & Berenson, G. S. (1989). Heart Smart School Lunch Program: a vehicle for cardiovascular health promotion. American Journal of Health Promotion, 4(2), 91-100.

http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.4278/0890-1171-4.2.91

Focus on Youth: Program prevensi HIV untuk remaja Afrika Amerika

Oleh Mahanani Satiti

download

Focus on Youth merupakan program prevensi HIV yang ditujukan untuk remaja etnis Afrika Amerika

Focus on Youth adalah program berbasis komunitas yang terdiri dari 8 sesi yang berisi prevensi HIV, penyakit menular seksual dan pencegahan kehamilan untuk remaja Afrika Amerika. Program ini memberikan skill dan wawasan untuk membuat keputusan yang akan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, HIV dan penyakit menular seksual melalui aktivitas interaktif seperti permainan, role play dan community project.

Sesi dalam Focus on Youth berupa:

Session 1: Trust Building and Group Cohesion

Session 2: Risks and Values

Session 3: Educate Yourself: Obtaining Information

Session 4: Educate Yourself: Examining Consequences

Session 5: Building Skills: Communication

Session 6: Information About Sexual Health

Session 7: Attitudes and Skills for Sexual Health

Session 8: Review and Community Project

Hal menarik yang membedakan Focus on Youth dengan kurikulum prevensi HIV dan penyakit menular seksual yang lain adalah:

1. Menargetkan pada remaja Afrika Amerika , usia 12-15 tahun, dalam setting komunitas.

2. Didesain untuk grup kecil tidak lebih dari 6-10 remaja.

3. Menggunakan 2 orang fasilitator yang terlatih. Paling tidak ada 1 fasilitator dengan etnis yang sama dengan mayoritas peserta.

4. Hal tersebut membuat terjadinya hubungan yang natural dalam kelompok dan meningkatkan peer support.

5. Menggunakan pendekatan dengan aktivitas interaktif seperti permainan, role play, diskusi dan community project sesuai dengan budaya peserta.

6. Menggunakan ‚Äúfamily tree‚ÄĚ untuk menjabarkan konsep yang abstrak e.g., decision-making and risk assessment.

Hal yang dapat kita adaptasi di Indonesia adalah pendekatan dalam prevensi HIV dengan etnisitas yang sama dinilai akan lebih efektif.

Referensi

Stanton BS, Li X, Ricardo I, Galbraith J, Feigelman S, Kaljee L. A randomized, controlled effectiveness trial of an AIDS prevention program for low-income African-American youths. Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine 150:363-372.

http://recapp.etr.org/recapp/index.cfm?fuseaction=pages.ebpDetail&PageID=125

The SMILES program untuk anak-anak dari orang tua atau saudara dengan gangguan mental

smiles

Oleh : Maria Alethea Septianastiti

Program Simplifying Mental Illness + Life Enhancement Skills (SMILES) didesain untuk sekelompok anak berusia 8-12 tahun atau 13-16 tahun yang memiliki ibu, ayah, kakak atau adik yang mngalami gangguan mental ( khususnya schizophrenia, gangguan bipolar, depresi atau gangguan cemas) . Program ini dikembangkan oleh Erica Pitman dan sudah dilaksanakan di Canada dan Australia. Tujuan dari program ini antara lain meningkatkan kemampuan mengatasi masalah, mengembangkan kreatifitas, kebebasan berekspresi, mengurangi perasaan terkucil, meningkatkan penghargaan untuk diri sendiri, dan lain-lain. Tujuan ini dicapai dengan berbagai macam kegiatan seperti edukasi mengenai gangguan mental, seni dan musik, dukungan teman sebaya, latihan interaksi dan komunikasi, latihan relaksasi, serta aktifitas memecahkan masalah.

Program ini dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut dari pukul 09.00-15.00 pada saat liburan sekolah. Untuk pelaksanaan dibutuhkan 8-10 anak berusia antara 8-12 tahun atau 13-16 tahun. Pada setiap program, Erica Pitman berlaku sebagai fasilitator dengan dibantu beberapa kofasilitator yang sudah mengikuti program train-the-trainer sebelumnya. Pelaksanaan program bekerja sama dengan dinas kesehatan lokal dan LSM terkait. Anak didaftarkan untuk mengikuti program oleh caseworker orangtua mereka.

Evaluasi pre dan postprogram menunjukkan bahwa program ini berhasil mencapai tujuannya dan dinilai sebagai format yang efektif. Program ini dapat diterapkan di manapun. Petunjuk pelaksanaan program dapat diunduh di link berikut http://www.copmi.net.au/smiles-program#downloads

REFERENSI

http://www.copmi.net.au/smiles-program

Pitman, E., & Matthey, S. (2004). The SMILES program: a group program for children with mentally ill parents or siblings. American Journal of Orthopsychiatry, 74(3), 383.

Save

Smoke Free School: Kurikulum Prevensi Merokok pada Anak SMP-SMA di Victoria, Australia

Oleh Randy Renaldo Wiratara

Image result for smoke free school curriculum

 

  • Smoke Free School merupakan kurikulum pencegahan merokok pada SMP-SMA yang dilakukan di Victoria, Australia.
  • Edukasi pencegahan merokok paling mudah diberikan dalam kurikulum sekolah mengenai kesehatan.
  • Strategi pengajaran tentang rokok pada SMP mencakup:
    • Membahas isu-isu tentang perokok pasif dan udara yang bersih terutama saat ada kampanye anti rokok
    • Edukasi tentang keterampilan hidup dan emosi
    • Memberikan kesempatan untuk diskusi masalah rokok
  • Strategi pengajaran tentan rokok pada SMA mencakup:
    • Informasi spesifik tentang rokok dan aktivitas-aktivitas sosial tentang masalah rokok
    • Latihan keterampilan menolak rokok
    • Latihan keterampilan hidup dan emosi
    • Diskusi tentang masalah-masalah yang terkait dengan rokok
    • Kurikulum pencegahan merokok secara komprehensif di kelas

Image result for smoke free school

Buku Petunjuk Pelaksanaan Smoke Free School:

Image result for DOWNLOAD BUTTON GIF

Referensi

Bellhouse, B., Johnston, G., Deed, C., & Taylor, N. (2007). Smoke Free Schools: Tobacco Prevention and Management Guidelines for Victorian Schools. Victoria: Department of Education and Early Childhood Development.

CHAMPS (Children and Mentally ill parents)

Oleh : Maria Alethea Septianastiti

kindergarten1

CHAMPS (Children and Mentally ill parents)  merupakan program kesehatan di Melbourne, Australia yang memanfaatkan dukungan teman sebaya untuk anak berusia 8-12 tahun dari orangtua yang mengalami gangguan mental. Tujuan dari program ini adalah memberikan informasi sesuai usia anak terkait gangguan mental. Mereka bisa bertemu anak-anak lain  dalam situasi yang sama untuk belajar tentang health
y coping strategy.
Berikut ini merupakan program CHAMPS :

  • CHAMPS After School Program

Merupakan program 8 minggu terstruktur untuk anak-anak berusia 8-12 tahun yang diadakan sepulang sekolah di berbagai tempat di wilayah metropolitan timur. Kegiatan ini berlangsung selama 1,5 jam setiap harinya. Tujuan dari program ini adalah untuk memberikan informasi sesuai usia dan dukungan melalui lembar kerja dan kegiatan.

  • Martial Arts as Therapy Program

Merupakan program 8 minggu yang menggabungkan dasar-dasar manajemen perilaku dengan prinsip-prinsip seni bela diri.

  • Kids Club

Sebuah program peer support bulanan untuk FaPMI (families where a parent has a mental illness)  yang sebelumnya telah terlibat dalam program CHAMPS. Program ini lebih menekankan pada rekreasi.

Program CHAMPS berhasil meningkatkan penghargaan anak untuk diri sendiri, problem-focused coping, dan hubungan dengan keluarga. Namun karena keterbatasan data, hasil jangka panjang dari program ini masih tidak jelas.Program ini diadakan secara cuma-cuma. Menurut saya program ini baik dan dapat dilakukan di manapun, termasuk Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana menemukan dan mengumpulkan anak-anak dari orang tua dengan gangguan mental dan memastikan peserta terus mengikuti program selama 8 minggu.

REFERENSI

https://www.easternhealth.org.au/services/item/183-children-families-better-understand-mental-illness-champs

Reupert, A. E., Cuff, R., Drost, L., Foster, K., van Doesum, K. T., & van Santvoort, F. (2012). Intervention programs for children whose parents have a mental illness: a review. Medical Journal of Australia, 196(7), 18.

Save

SHUTi : Mengatasi Insomnia dengan Sesi Online

Oleh Adrean Angga Meliala

 

SHUTi merupakan program yang direferensikan oleh “Harvard Health” sebagai‚Äúthe best-studied program‚ÄĚ. ¬†SHUTi ¬†dirancang untuk melatih kembali tubuh dan pikiran untuk tidur yang menyegarkan melalui strategi dan sesi online Cognitive Behavioral Therapy. Tidak seperti materi tercetak, koleksi video, atau bahan kuliah, tiap sesi sangat “personalized” terhadap masing-masing pengguna, dan membantu sedikit demi sedikit untuk memaksimalkan pola tidur bagi orang-orang yang mengalami insomnia untuk jangka waktu lama.

Referensi :

Christensen, Helen, et al. “Effectiveness of an online insomnia program (SHUTi) for prevention of depressive episodes (the GoodNight Study): a randomised controlled trial.” The Lancet Psychiatry 3.4 (2016): 333-341.

http://www.myshuti.com/

 

Inovasi Philips dan Bundamedik Membantu Memperbaiki Angka Kematian Ibu di Sumatera Barat

Proyek Percontohan Mobile Obstetrical Monitoring (MoM) Solution Philips memperluas lagi akses layanan kesehatan dan memperbaiki Angka Kematian Ibu (AKI).

 

Selama program berlangsung, jumlah kehamilan beresiko yang teridentifikasi oleh para bidan melalui konsultasi dan pengawasan jarak jauh oleh ahli kandungan, meningkat secara substansial. Seluruh Ibu yang berpartisipasi berhasil melalui masa kehamilan dan melahirkan dengan selamat.

Sebagai solusi layanan kesehatan jarak jauh yang terukur dan dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan perkotaan dan pedesaan, dalam bentuk aplikasi ponsel, MoM menjadi bekal utama para bidan saat mengunjungi ibu hamil di rumahnya. Dengan MoM, data kehamilan yang diunggah secara online atau melalui SMS, dihubungkan ke pusat data utama. Selanjutnya ahli kandungan memonitor laporan-laporan tersebut untuk kemudian mengidentifikasi kehamilan beresiko tinggi, dan memberikan penanganan lanjutan sesuai kebutuhan.

‚ÄúPara dokter dan bidan dapat mengidentifikasi kehamilan beresiko jauh lebih cepat sehingga dapat memberikan saran terhadap penanganan yang tepat dan pada waktunya. Solusi MOM dapat mengatasi keterbatasan sumber daya manusia dengan memanfaatkan teknologi layanan kesehatan jarak jauh.‚ÄĚ

Philips dan IRSI berencana untuk mempresentasikan hasil program ini ke Kementerian Kesehatan dan melihat kemungkinan program ini dapat diimplementasikan secara nasional. 

Referensi

http://www.philips.co.id/a-w/about/news/archive/standard/news/press/2015/20150227_Philips-innovation.html

 

National Healthy Lifestyle Programme in Singapore

Oleh: Nur Izyani

Program ini dianjurkan oleh Kementerian Kesihatan Singapore sejak tahun 1992.  Objektif program ini adalah untuk meningkatkan kesedaran mengenai kepentingan mengamalkan gaya hidup sihat. Aktiviti yang dilakukan adalah untuk promosi healthy eating habits dan bersenam secara rutin. Program ini  juga menggalakkan rakyatnya untuk berhenti merokok, membantu dalam stress management dan mengamalkan hidup yang sihat. Dengan adanya program ini, jumlah perokok semakin berkurang dan lebih ramai rakyat yang berolahraga secara rutin.

sg

Referensi

  1. http://eresources.nlb.gov.sg/infopedia/articles/SIP_339_2005-01-06.html
  2. Cutter, J., Tan, B. Y., & Chew, S. K. (2001). Levels of cardiovascular disease risk factors in Singapore following a national intervention programme.Bulletin of the World Health Organization, 79(10), 908-915.

Telemedicine: A new way for caring elderly in America And Swedia. Indonesia?

Oleh Putri Ayudhia

Telemedicine merupakan komunikasi dokter-pasien dari jarak jauh. Di indonesia, bentuk telemedicine yang sudah diterapkan seperti konsultasi via wa/line, sms, atau telepon. Metode ini mulai digunakan untuk para lansia di Amerika. Negara lain yang juga mengembangkan metode ini adalah Swedia. Telemedicine memungkinkan untuk pemeriksaan dan konsultasi menjadi lebih mudah. Para lansia tidak perlu mengantri lama atau bepergian jauh ke rumah sakit. Lansia cukup duduk didepan komputer atau laptop untuk berkonsultasi dengan dokter, perawat atau tenaga medis lainnya dengan menghubungkan ke jaringan internet. Metode ini sudah dapat dipakai disana karena konsumsi internet di negara tersebut sudah tinggi selain karena ekonomi negara yang baik. Jika dibandingkan dengan di negara kita, masih banyak masyarakat yang gagap teknologi. Ini secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi dan pendidikan negara kita yang masih lemah.

Artikel lainnya dapat dibaca lebih lanjut pada;

https://www.longtermcarelink.net/eldercare/medical_care_issues.htm

http://kebijakankesehatanindonesia.net/images/2013/Open_lecture_RC_and_checkup_-_Asa.pdf