Membuat Data Base Imunisasi Anak Sekolah Melalui Pendataan Siswa Baru

12.1.2. Recommendation #2: Initiate legislation for school entry
reporting requirements
Legislation enforcing school entry reporting represents the most comprehensive alternative to increase and monitor coverage across all children. Establishing school￾based immunization requirements creates a new site for the collection of health data, the
mandate to enforce decision-making among parents, and the authority to enact penalties
for non-compliance. This recommendation reinforces vaccination as an essential action
for the personal and societal protection of public health by creating a standard of disease
control and prevention across the country. Used in tandem with school reporting requirements, outreach and mobile clinics can directly support this recommendation by targeting undervaccinated communities and regions prior to the time of school entry.
Finally, this allows school boards to act in ensuring the health and safety of their populations to prevent and control outbreaks in settings prime for contagion.

Strategi monitoring vaksinasi anak yang diterapkan Pemerintah Kanada ini menurut saya sangat menarik dan dapat diterapkan di Indonesia. Catatan saya:

1) barangkali ada baiknya jika program imunisasi anak di usia sekolah ditugaskan kepada sekolah. Artinya, sekolah sebagai penyelenggara dan pengawas program tersebut bekerja sama dengan Dinas Kesehatan

2) perlu sosialisasi dan pelatihan pembuatan database terkait dengam jadwal imunisasi anak

3) pendataan seperti ini diharapkan dapat benar-benar aktual karena dilakukan secara de facto.

Referensi:

Compton, JE 2015, Canada’s Best Shot: Policies to Improve Childhood Immunization Coverage, Canada: Simon Friser University.

 Pemerintah Kanada Melibatkan ‘Local Leader’ untuk Meningkatkan Capaian Imunisasi di Komunitas Under-Immunized

12.1.1. Recommendation #1: Target outreach and mobile clinics to areas with low coverage

Community outreach is a proactive method of reaching under-immunized communities and improving health equity. Immediate efforts should introduce mobile outreach clinics to communities with the lowest access to immunization services and clinics and known under-immunization. By developing effective relationships with local leaders, outreach clinics can also create new lines of influence and vaccine demand among communities. Provincial assessment of required capital should begin immediately, with procurement of buses or vans and distribution of personnel following in the short term.

Menurut saya, strategi melibatkan pimpinan komunitas lokal untuk meningkatkan capaian imunisasi dapat diaplikasikan di Indonesia dengan pertimbangan:
1) model kepemimpinan ‘Pak RT-Pak RW’ efektif untuk menggerakkan masyarakat pedesaan

2) masih banyak daerah pedesaan/pegunungan dengan angka capaian imunisasi rendah

3) perlu dibangun sistem pelaporan kelahiran anak dan sistem monitoring imunisasi dari puskesmas yang menjangkau hingga ke tingkat RT-RW. Pendataan oleh RT-RW justru bisa lebih aktual karena mendata secara de facto; mengingat di daerah pedesaan banyak kelahiran di luar fasilitas kesehatan terdaftar.

Referensi:

Compton, JE 2015, Canada’s Best Shot: Policies to Improve
Childhood Immunization Coverage, Canada: Simon Friser University.

Strategi Pemerintah Nepal Meningkatkan Capaian Imunisasi di Daerah Sulit Dijangkau dengan Memberdayakan ‘Ibu-ibu PKK’

Menurut saya, strategi pencapaian imunisasi yang digunakan untuk pemerintah Nepal di atas:

1) cocok untuk diterapkan di daerah yang sulit dijangkau dengan keterbatasan sumber daya manusia

2) konsep Village Development Committee sebaiknya mengoptimalkan keterlibatan tokoh masyarakat setempat hingga ke lapisan bawah (setidaknya sampai setingkat RW)

3) tokoh masyarakat di tingkat bawah sangat dibutuhkan untuk menggerakkan masyarakat

4) edukasi relawan imunisasi dari masyarakat sangat penting untuk dilaksanakan hingga target kompetensi minimal untuk melaksanakan imunisasi tercapai.

Referensi

Anonym 2011, National Immunization Program Reaching Every Child – Comprehensive Multi-Year Plan 2068-2072 (2011-2016), Nepal: Ministry of Health and Population.

Menyanggah Kelompok Anti-Vaksin dengan Pembahasan Komprehensif pada Tiga Aspek

Mengingat ada tiga aspek terkait vaksin yang dipermasalahkan oleh kelompok anti-vaksin, yaitu:

1. isu bahwa vaksinasi adalah konspirasi zionis

2. vaksinasi dapat menyebabkan kecacatan

3. vaksin ada yang mengandung bahan haram

Menurut saya buku ini sangat baik untuk menyanggah ketiga isu tersebut. Buku ini membahas vaksinasi dari sisi syariat dan medis. Buku ini juga membantah isu-isu miring seputar vaksinasi yang beredar di masyarakat.

Keistimewaan buku ini adalah:

1. Ditulis oleh seorang dokter (dr. Raehanul Bahraen, Residen Patologi Klinik RSUP Dr. Sardjito) yang juga telah dikenal di masyarakat luas sebagai seorang ustadz.

2. Pembahasan vaksinasi secara komprehensif dari sisi syariat dan medis, disertai pembantahan isu miring seputar vaksinasi.

3. Dari sisi bobot ilmiah dan branding, buku ini ditunjang dengan kata pengantar dari (a) Prof. dr. Cissy B. Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc, Ph.D – (Ketua Satgas Imunisasi PP IDAI 2014-2017), (b) Prof. dr. Budi Mulyono, Sp.PK (K), MM – (Kepala Bagian Patologi Klinik UGM, Direktur RSUP DR. Sardjito Yogyakarta 2009-2012), (c) dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp. A (K) -(Founder Rumah Vaksin, Sekjen PP IDAI 2014-2017), (d) DR.Med. dr. Suwarso Sp.PK (K) -Ahli Virologi dan konsultan Praktisi Vaksinasi.

Maka catatan saya mengenai buku ini dari sisi public health ialah:

1) menjadi inspirator strategi edukasi bagi kelompok yang menghindari vaksin

2) mengingatkan penggiat kebijakan untuk mengklarifikasi isu vaksinasi dari berbagai aspek secara terintegrasi, dari sisi medis dan syariat; tentu saja dengan melibatkan para ahli di bidang tersebut

3) dapat menjadi inspirator pembuat kebijakan untuk menyediakan informasi yang mudah diakses dan komprehensif tentang vaksinasi baik dalam bentuk buku, seminar, aplikasi, website dll.

Save