PREPARE: School-Based HIV and Intimate Partner Violence (IPV) Prevention Program

Oleh Mahanani Satiti


1. Aim: to delay sexual debut, increase condom use and decrease intimate partner violence (IPV) among young adolescents.

2. Subjects: Boys and girls grade eights in 42 high schools (age 13-14) in South Africa

3. Methods:  an educational program, a school health service and a school safety program.

The educational program consisted of 21 sessions delivered

Time: once a week, immediately when school ended, in the school premises.

Duration: 1 – 1.5 h/ session

Participants: 25 participants/session


Program in PREPARE



Mathews, C., Eggers, S. M., Townsend, L., Aarø, L. E., Vries, P. J., Mason-Jones, A. J., … & Wubs, A. (2016). Effects of PREPARE, a Multi-component, School-Based HIV and Intimate Partner Violence (IPV) Prevention Programme on Adolescent Sexual Risk Behaviour and IPV: Cluster Randomised Controlled Trial. AIDS and Behavior, 1-20.


Gender-focused HIV and pregnancy prevention for school-going adolescents

Oleh Mahanani Satiti


1. This pilot study evaluated a 15-session classroom intervention for HIV and pregnancy prevention

2. Subjects: 8–10 boys and girls (aged 14–17 years) in rural South Africa

3. Methods: guided by gender-empowerment theory and implemented by teachers, nurses, and youth peer educators.

Pre- and post-intervention surveys included 933 male and female students in two intervention and two comparison schools.

4. Results: The main outcome was condom use at last sex; secondary outcomes were partner communication, gender beliefs and values, perceived peer behaviors, and self-efficacy for safer sex.

At 5 months post-intervention, change in condom use did not differ between intervention and comparison schools. Intervention school youth had greater increases in self-efficacy for unsafe sex refusal


Harrison, A., Hoffman, S., Mantell, J. E., Smit, J. A., Leu, C. S., Exner, T. M., & Stein, Z. A. (2016). Gender-focused HIV and pregnancy prevention for school-going adolescents: The Mpondombili pilot intervention in KwaZulu-Natal, South Africa. Journal of HIV/AIDS & Social Services, 15(1), 29-47.

Smoke Screen: Kurikulum Pencegahan Merokok bagi Anak Usia 10-14 tahun di New South Wales

Oleh Randy Renaldo Wiratara


  • Smoke Screen merupakan kurikulum pencegahan merokok pada anak SD dan SMP di New South Wales, Australia.
  • Smoke Screen terbagi menjadi 2, yaitu:
    1. Smoke Screen Stage 3 : untuk kelas 5 (usia 10-11 tahun) dan kelas 6 (usia 11-12 tahun) pada tingkat SD
    2. Smoke Screen Stage 4 : untuk kelas 7 (usia 12-13 tahun) dan kelas 8 (usia 13-14 tahun) pada tingkat SMP
  • Materi-materi tentang rokok, bahaya merokok, bagaimana mengatakan tidak terhadap rokok, perilaku anti-rokok, dll. dikemas dalam bentuk:
    • Kuis
    • Diskusi
    • Mencocokkan gambar & kalimat
    • Komik

Materi Smoke Screen Stage 3


Buku Petunjuk Pelaksanaan Smoke Screen Stage 3 bagi Pengajar

Image result for DOWNLOAD BUTTON GIF

Buku Kegiatan Smoke Screen Stage 3 bagi Pelajar

Image result for DOWNLOAD BUTTON GIF

Materi Smoke Screen Stage 4


Buku Petunjuk Pelaksanaan Smoke Screen Stage 4 bagi Pengajar

Image result for DOWNLOAD BUTTON GIF

Buku Kegiatan Smoke Screen Stage 4 bagi Pelajar

Image result for DOWNLOAD BUTTON GIF


Wright, D., Foss, P., Hanson, V., & Mulheron, D. (2001). Smoke screen: a smoking prevention resource. Sydney, N.S.W.: New South Wales Dept. of Education and Training.

Membuat Data Base Imunisasi Anak Sekolah Melalui Pendataan Siswa Baru

12.1.2. Recommendation #2: Initiate legislation for school entry
reporting requirements
Legislation enforcing school entry reporting represents the most comprehensive alternative to increase and monitor coverage across all children. Establishing school￾based immunization requirements creates a new site for the collection of health data, the
mandate to enforce decision-making among parents, and the authority to enact penalties
for non-compliance. This recommendation reinforces vaccination as an essential action
for the personal and societal protection of public health by creating a standard of disease
control and prevention across the country. Used in tandem with school reporting requirements, outreach and mobile clinics can directly support this recommendation by targeting undervaccinated communities and regions prior to the time of school entry.
Finally, this allows school boards to act in ensuring the health and safety of their populations to prevent and control outbreaks in settings prime for contagion.

Strategi monitoring vaksinasi anak yang diterapkan Pemerintah Kanada ini menurut saya sangat menarik dan dapat diterapkan di Indonesia. Catatan saya:

1) barangkali ada baiknya jika program imunisasi anak di usia sekolah ditugaskan kepada sekolah. Artinya, sekolah sebagai penyelenggara dan pengawas program tersebut bekerja sama dengan Dinas Kesehatan

2) perlu sosialisasi dan pelatihan pembuatan database terkait dengam jadwal imunisasi anak

3) pendataan seperti ini diharapkan dapat benar-benar aktual karena dilakukan secara de facto.


Compton, JE 2015, Canada’s Best Shot: Policies to Improve Childhood Immunization Coverage, Canada: Simon Friser University.

VNSNY’s Children’s Mobile Crisis Team (CMCT) : pelayanan cepat terhadap krisis mental untuk anak-anak, remaja dan keluarga mereka


Oleh : Maria Alethea Septianastiti

Children’s Mobile Crisis Team (CMCT) merupakan program pelayanan cepat terhadap krisis mental oleh Visiting Nurse Service of New York (VNSNY) yang  ditujukan untuk anak dan remaja yang berusia 0-18 tahun yang bertempat tiggal atau bersekolah di daerah Bronx, Brooklyn, dan Queens.

Pelayanan CMCT tersedia selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Bila ditemukan gejala krisis mental pada anak selama minimal 5 hari, atau anak membolos selama 5 hari, keluarga atau pihak sekolah dapat menghubungi tim melalui telepon. Kemudian dalam 2 jam, tim yang terdiri dari staf berlisensi di bidang counseling and family advocates akan mengunjugi rumah untuk melakukan penilaian krisis, stabilisasi krisis, de-eskalasi krisis, penilaian psikososial, perencanaan pencegahan, dan melatih anggota keluarga untuk menangani dan mencegah situasi krisis yang serupa.

Menurut saya program ini baik karena seringkali masyarakat tidak mampu menghadapi krisis mental yang terjadi dalam keluarga dan tidak tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan bantuan. Dengan program ini masyarakat akan sangat terbantu dalam mendapatkan pelayanan terhadap krisis mental.

Referensi :

Teaching TB in a game for Children in India

Oleh : Andy Pratama P

Di Andhra Pradesh, salah satu negara bagian di India, menggunakan media permainan anak-anak untuk membantu anak-anak di Andhra Pradesh mempelajari TB dan HIV.

Media permainannya adalah ‘Snake and Ladder’ atau ular tangga. Untuk cara permainannya sendiri tidak berbeda dengan permaian aslinya yang masih menggunakan dadu, akan tetapi yang membedakan bila pada papan permaian tiap kotaknya pesan – pesan penting yang berhubungan dengan TB, HIV dan co-infeksi.

Anak-anak juga diberikan salianan dari permainan untuk bisa mereka bawa ke rumah atau ke sekolah sehingga mereka bisa menggunakan kembali.

Menurut saya, program ini cukup inovatif dan cukup mudah untuk diterapkan di Indonesia apabila kita ingin memberikan bekal-bekal pengetahuan dasar mengenai penyakit TB dan HIV kepada anak-anak. Anak-anak akan jauh lebih menerima dan terlibat aktif dalam permainan dibandingankan dengan pemberian materi maupun grup diskusi sehingga informasi yang ingin kita berikan bisa diterima baik oleh anak-anak




Waves for change: changing lives, 1 wave at a time

Oleh Mahanani Satiti


Waves for Change: program pelatihan berselancar untuk remaja Afrika Selatan sebagai salah satu program pencegahan HIV-AIDS

Waves for Change provides safe spaces, access to caring adults, and provision of weekly ‘Surf Therapy Sessions’, to help young people from volatile backgrounds develop skills to regulate behaviour, build healing relationships, cope with stress and make positive life-choices.

Waves for Change menyediakan sarana yang positif bagi remaja Afrika Selatan untuk menyalurkan bakat mereka. Tujuan dari program ini adalah agar mereka terhindar dari pergaulan bebas, narkoba dan HIV/AIDS


Proses perekrutan remaja peserta


Kurikulum program Wave for Change


 Pemerintah Kanada Melibatkan ‘Local Leader’ untuk Meningkatkan Capaian Imunisasi di Komunitas Under-Immunized

12.1.1. Recommendation #1: Target outreach and mobile clinics to areas with low coverage

Community outreach is a proactive method of reaching under-immunized communities and improving health equity. Immediate efforts should introduce mobile outreach clinics to communities with the lowest access to immunization services and clinics and known under-immunization. By developing effective relationships with local leaders, outreach clinics can also create new lines of influence and vaccine demand among communities. Provincial assessment of required capital should begin immediately, with procurement of buses or vans and distribution of personnel following in the short term.

Menurut saya, strategi melibatkan pimpinan komunitas lokal untuk meningkatkan capaian imunisasi dapat diaplikasikan di Indonesia dengan pertimbangan:
1) model kepemimpinan ‘Pak RT-Pak RW’ efektif untuk menggerakkan masyarakat pedesaan

2) masih banyak daerah pedesaan/pegunungan dengan angka capaian imunisasi rendah

3) perlu dibangun sistem pelaporan kelahiran anak dan sistem monitoring imunisasi dari puskesmas yang menjangkau hingga ke tingkat RT-RW. Pendataan oleh RT-RW justru bisa lebih aktual karena mendata secara de facto; mengingat di daerah pedesaan banyak kelahiran di luar fasilitas kesehatan terdaftar.


Compton, JE 2015, Canada’s Best Shot: Policies to Improve
Childhood Immunization Coverage, Canada: Simon Friser University.

Strategi Pemerintah Nepal Meningkatkan Capaian Imunisasi di Daerah Sulit Dijangkau dengan Memberdayakan ‘Ibu-ibu PKK’

Menurut saya, strategi pencapaian imunisasi yang digunakan untuk pemerintah Nepal di atas:

1) cocok untuk diterapkan di daerah yang sulit dijangkau dengan keterbatasan sumber daya manusia

2) konsep Village Development Committee sebaiknya mengoptimalkan keterlibatan tokoh masyarakat setempat hingga ke lapisan bawah (setidaknya sampai setingkat RW)

3) tokoh masyarakat di tingkat bawah sangat dibutuhkan untuk menggerakkan masyarakat

4) edukasi relawan imunisasi dari masyarakat sangat penting untuk dilaksanakan hingga target kompetensi minimal untuk melaksanakan imunisasi tercapai.


Anonym 2011, National Immunization Program Reaching Every Child – Comprehensive Multi-Year Plan 2068-2072 (2011-2016), Nepal: Ministry of Health and Population.

STOP Suicide : sebuah kampanye untuk mengurangi angka bunuh diri


Oleh: Maria Alethea Septianastiti

Stop suicide merupakan kampanye untuk mencegah bunuh diri di Peterborough, Cambridgeshire, Inggris. Kampanye ini didukung oleh Public Health England.

Kegiatan stop suicide antara lain menaikkan kesadaran umum tentang bunuh diri, pelatihan khusus bagi para sukarelawan, dan kampanye publik untuk mendorong masyarakat mendaftar STOP suicide pledge.

Pelatihan khusus yang dimaksud adalah Applied Suicide Intervention Skills Training (ASIST), yaitu pelatihan komprehensif selama 2 hari yang bertujuan agar peserta menjadi lebih mau, siap, dan mampu untuk membantu orang-orang yang berisiko melakukan bunuh diri. Pelatihan ini dikembangkan oleh LivingWorks di Canada dan sudah diadaptasi secara luas di dunia.

STOP suicide pledge yang terbagi menjadi organisational pledge dan individual pledge, merupakan komitmen untuk diri sendiri dan anggota dari komunitas untuk bicara lebih terbuka mengenai bunuh dir dan membantu mereka yang sedang tertekan dengan menjadi pendengar yang baik serta berhenti menghakimi.




The Melbourne inFANT Program : A parent focused child obesity prevention intervention


Oleh : Saraswati Anindhita

The Melbourne InFANT Program is a cluster-randomized controlled trial which involved 542 mothers over their newborn’s first 18 months of life. The intervention focused on parenting skills and strategies, including parental modeling, and aimed to promote development of healthy child and parent behaviors from birth, including healthy diet, increased physical activity and reduced TV viewing time.

This dietician-delivered intervention comprised six 2-hour sessions delivered quarterly during the regular meeting time of the first-time parents’ group. Based on the theory of anticipatory guidance, the intervention incorporated a range of modes of delivery and educational strategies including brief didactic sessions, use of group discussion and peer support, exploration of perceived barriers and facilitators, use of visual and written messages, and mail-outs. Intervention materials incorporated six purpose designed key messages within a DVD and written handouts: “Eat together, play together”, “Colour every meal with fruit and veg”, “Parents provide, kids decide”, “Tap on water”, “Snack on fruit and veg”, “Off and running”.

Menurut saya program ini sangat baik karena targetnya adalah first time parents yang belum banyak mengetahui tentang bagaimana menanamkan pola hidup sehat untuk dirinya sendiri dan anaknya. Fokus program ini adalah parenting skill until mempromosikan positive lifestyle behaviour sehingga selain mencegah obesitas yang terjadi pada anaknya misalnya dengan pola menyusui yang baik tetapi dapat pula meningkatkan mother’s dietary pattern

Reference :

Lioret, S., Campbell, K. J., Crawford, D., Spence, A. C., Hesketh, K., & McNaughton, S. A. (2012). A parent focused child obesity prevention intervention improves some mother obesity risk behaviors: the Melbourne inFANT program. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 9(1), 1.

Project U: unjuk kreativitas siswa dalam kampanye HIV-AIDS

Oleh Mahanani Satiti


Project U merupakan kerjasama antara Los Angeles Unified District (LAUSD), Health Education Programs, HIV/AIDS Prevention Unit dan Art Center School untuk meningkatkan awareness terhadap HIV-AIDS


1. Satu kelas dibagi menjadi 3 tim desain dengan area fokus yang berbeda. Tim kampanye media cetak, website dan lingkungan.

2. Tim kampanye media cetak membuat leaflet, poster, print ads. Poster didesain untuk dapat digunakan dalam konteks yang luas, dari billboard, iklan di halte bus dan grafitti temporer menggunakan teknik wheatpasting. Untuk membuat kampanye fleksibel dan tahan lama, terdapat aturan-aturan dalam membuat poster, sedangkan untuk media yang lain lebih fokus untuk pengenalan karakter dan logo Project U.


Booklet Project U oleh tim kampanye media cetak

2. Tim kampanye website menyebarkan newsletter lewat email berisi link website berisi program dan update dari Project U. Tim ini juga membuat aplikasi smartphone yang dapat diunduh berisi

1) Condom finder. (with GPS access).

2) Clinic finder (with GPS access).

3) Picture uploader.

4) Character builder.

Website tersebut juga berisi game-game interaktif untuk menarik siswa sekolah lain untuk ikut berpartisipasi. Tiap game akan menghasilkan poin yang dapat ditukarkan dengan merchandise berupa T shirt, gantungan kunci, pin.


Website Project U

3. Tim kampanye lingkungan membuat merchandise Project U berupa gantungan kunci, stiker, kartu, T shirt, desain untuk bungkus kondom.


Merchandise Project U


Contoh desain kampanye Project U


Program ini merupakan contoh kampanye HIV yang menarik dan interaktif dan patut kita contoh di Indonesia.